Kondisi lingkungan
yang rusak dan semakin parah sangat mempengaruhi terjadinya banjir. Banjir sendiri
terjadi karena kondisi hulu yang rusak. Selain itu menurut Direktur Jendral
Sumber Daya Air (SDA) Moh.Hasan, banyak berdirinya pemukiman liar di bantaran sungai
semakin memperparah kondisi lingkungan di Jakarta khususnya di daerah bantaran
sungai. Kerusakan ini berdampak pada sistem irigasi yang tidak optimal.
Berkaitan dengan
hal tersebut, pembangunan waduk sangat penting. Selain itu menormalisasi waduk-waduk
juga dapat mengurangi terjadinya banjir. Seperti normalisasi waduk oleh Pemprov
DKI Jakarta. Program Pemprov DKI sendiri yaitu mengeruk, memperdalam, memperlebar
kali-kali yang ada di Jakarta.
Normalisasi
kali Ciliwung merupakan program utama Pemprov DKI Jakarta. Untuk masalah fisik sendiri
akan ditangani oleh Kementrian PU sedangkan Pemprov DKI Jakarta menangani masalah
social dan lahan. Menurut Dirjen SDA, rencananya akan dibuat sodetan dari
Selatan ke Utara yang dialirkan ke Banjir Kanal Timur. Sodetan ini akan memotong debit banjir di DKI
±60m³/detik.
Banjir merupakan dampak dari kerusakan lingkungan
itu sendiri. Rencana pembangunan waduk dan normalisasi waduk memang dapat mencegah
banjir itu sendiri. Tetapi itu semua harus diimbangi juga dengan kesadaran masyarakat.
Masyarakat sendiri sering tidak memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Padahal
banjir itu sendiri sebenarnya berasal dari mereka sendiri yang kurang peduli terhadap
lingkungan. Selain itu menurut saya, perlu adanya sosialisasi dari pihak
terkait tentang peran lingkungan itu sendiri di dalam kehidupan mereka dan
dampaknya apabila mereka merusaknya.
Sumber :
Datin sda. 2013. "Normalisasi Waduk Guna Mengatasi
Banjir" dalam sda.pu.go.id. Diunduh pada 18 September 2013.